Search
Advance search | Arsip | Registration | About us

 

Rabu, 17 Oktober 2007

Gaya Hidup

Berhenti Merokok atau Loyo!

Perokok yang menghabiskan 10 batang per hari, 27 persen kemungkinan mengalami disfungsi ereksi.

Dina sering merasa sebal jika harus menumpang bus kota. Tak cuma sumpek, beberapa pria juga sering seenaknya merokok di dalam bus yang panas. Tentu saja Dina tak berani menegur langsung para pria yang seenaknya merokok dalam bus. Dia pun hanya bisa ngedumel dalam hati. "Aku paling benci dengan pria perokok," katanya suatu kali.

Para pria perokok memang seperti musuh di lingkungan sekitarnya. Asapnya yang ke mana-mana sering membuat orang terasa sesak napasnya. Belum lagi akibat lain, seperti lingkungan yang kotor karena abu rokok dibuang sembarangan. Perokok memang sedang menggali kuburnya sendiri dengan berbagai ancaman yang tertera dibungkus rokok, seperti masalah impotensi dan gangguan kesehatan lainnya.

Merokok memang awal sebuah masalah. Dalam sebuah penelitian, merokok dapat meningkatkan risiko hingga 41 persen timbulnya masalah. Salah satunya adalah disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi atau impotensi adalah ketidakmampuan secara konsisten untuk memulai dan mempertahankan ereksi demi kepuasan seksual. Biasanya impotensi disebabkan oleh kelainan pembuluh darah, kelainan saraf, obat-obatan, kelainan pada penis, serta masalah psikis yang mempengaruhi gairah seksual.

Penyebab yang bersifat fisik lebih banyak ditemukan pada pria lanjut usia, sedangkan masalah psikis kerap terjadi pada pria yang lebih muda. Semakin bertambah umur seorang pria, maka kemungkinan impotensi semakin besar. Sekitar 50 persen pria berusia 65 tahun dan 75 persen pria berusia 80 tahun mengalami impotensi. Agar bisa ereksi, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu, penyakit pembuluh darah (misalnya aterosklerosis) bisa menyebabkan impotensi.

Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau akibat pembedahan pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis. Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini bisa terjadi akibat cedera diabetes melitus, sklerosis multiple, stroke, obat-obatan, alkohol, penyakit tulang belakang bagian bawah, serta pembedahan rektum atau prostat. Sekitar 25 persen kasus impotensi disebabkan oleh obat-obatan (terutama pada pria usia lanjut yang banyak mengkonsumsi obat-obatan). Obat-obatan yang bisa menyebabkan impotensi adalah antihipertensi, antipsikosa, antidepresi, obat penenang, simetidi, dan litium.

Nah, dalam sebuah penelitian terbaru di Cina terhadap 4.763 pria berusia 35 hingga 74 tahun, ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara jumlah perokok dan penis yang loyo. Menurut Dr. Jiang He dari University School of Public Health, New Orleans, hubungan antara merokok dan disfungsi ereksi sebetulnya telah ditemukan pada studi sebelumnya. Namun, kebanyakan dari studi itu mengarah pada pasien-pasien pengidap hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskuler.

"Apa yang membedakan di dalam studi ini adalah studi yang pertama, yaitu yang menemukan hubungan antara disfungsi ereksi dan laki-laki yang sehat," ujar Jiang He. Penelitian yang dituangkan dalam American Journal of Epidemiology itu menyebutkan, secara keseluruhan, laki-laki yang merokok meningkatkan risiko 41 persen terkena disfungsi ereksi ketimbang lelaki laki-laki bukan perokok.

Menurut Jiang He, ada hubungan yang jelas dari respons dosis, yang berarti bahwa lebih banyak seorang lelaki merokok maka risiko lebih tinggi yang bisa timbul adalah terjadinya disfungsi ereksi. Dia menambahkan, dibandingkan dengan yang tidak merokok, perokok pria yang merokok hingga 10 batang per hari memiliki 27 persen kemungkinan disfungsi ereksi.

Sedangkan yang mengisap rokok 11 hingga 20 batang per hari memiliki kemungkinan risiko 45 persen lebih besar terserang disfungsi ereksi. Dan, bagi perokok berat yang menghabiskan 20 batang setiap harinya, maka risikonya akan meningkat hingga 65 persen. Penelitian ini memperkirakan 22,7 persen penyebab disfungsi ereksi di antara orang Cina yang sehat atau 11,8 juta kasus disebabkan oleh kebiasaan merokok.

Bahkan, ketika para perokok berhenti, risiko terjadinya disfungsi ereksi tidak berkurang. Para peneliti menemukan risiko terjadinya disfungsi ereksi ini secara statistik sama untuk bekas perokok dan yang saat ini sedang merokok. "Jadi pesan saya: jangan mulai merokok," ucap Jiang He menandaskan.MSNBC.COM/Wikipedia/marlina

koran

Berita lainnya

Dua Nyawa Melayang Di Jalan Tol Jakarta-Merak - 07 Ags 2008 | 21:09 WIB
Dennis tetap di McLaren - 07 Ags 2008 | 21:06 WIB
Panitia Konser Maut Dituntut 3 Tahun Penjara - 07 Ags 2008 | 21:01 WIB
Perilaku Koruptif Tidak Berubah - 07 Ags 2008 | 20:51 WIB
DPRD Banten Minta RSUD Balaraja Dioperasikan - 07 Ags 2008 | 20:46 WIB
Schuster Hormati Keputusan Ronaldo - 07 Ags 2008 | 20:41 WIB
AJI Sampaikan Solidaritas untuk Jurnalis China - 07 Ags 2008 | 20:22 WIB
Debut Indah Italia dan Brasil - 07 Ags 2008 | 20:16 WIB
Singapura Bantu Buruh Lewat Work-Fare - 07 Ags 2008 | 20:09 WIB
Industri di Malang Minta Intensif PLN - 07 Ags 2008 | 20:05 WIB
>

index berita


Google Custom Search
  @ korantempo