Search
Advance search | Arsip | Registration | About us

 

Jum’at, 15 Februari 2008

Suplemen

Dian Sastro

Wicaksono

Box office itu namanya Dian Sastrowardoyo. Hanya diputar di http://blog.diansastro.net. Dapat ditonton 24 jam sehari, 7 hari dalam sepekan. Nonstop. Posting pertamanya bertanggal 23 Januari 2008, dan terus laris manis dilongok hingga tulisan ini dibuat. Tiap posting memiliki 29-160 komentar. Posting berjudul Pagee pagee butaaa! untuk sementara menuai komentar tertinggi, 162, jauh di atas rata-rata komentar yang didapat para "pemain" lama.

"Namanya juga seleb, Mas. Artis. Jangan heran kalau banyak penggemarnya," kata seorang kawan.

Saya tahu dan tak heran. Di ranah blog, nama seseorang bisa melejit tiba-tiba karena dua hal. Namanya memang sudah masyhur atau ia membuat posting yang kontroversial. Dian Sastro, artis kondang yang membintangi antara lain Ada Apa dengan Cinta? dan Dunia tanpa Koma, memiliki salah satu syarat tersebut.

"Itulah yang membuat saya iri, Mas," teman saya menambahkan.

"Kenapa?"

"Saya ini bukan siapa-siapa. Saya pun tak pernah menulis sesuatu yang kontroversial di blog. Lalu kapan saya bisa ngetop seperti Dian, Mas?"

Saya tersenyum, seolah-olah maklum dan bersimpati. Menjadi terkenal memang sindrom yang kerap menghinggapi banyak blogger. Meski sah-sah saja, saya menganggap keterkenalan dan tingginya jumlah komentar bukan tujuan kita membuat blog. Lagi pula, Dian Sastro cuma satu. Pun tak semua orang memiliki kesempatan jadi artis. Kenapa harus iri? Toh, tak semua film peraih Oscar laris ditonton orang.

"Memang, tapi kalau punya blog tak pernah ditengok orang, lama-lama frustrasi juga, kan, Mas?" tanya teman saya itu tak mau kalah.

"Eits, jangan salah. Saya juga tak mau semua orang datang ke blog saya."

"Kenapa? Kok, aneh?"

"Saya bikin blog bukan untuk menarik perhatian semua orang. Saya membuatnya untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan informasi, terutama tentang tulis-menulis dan tip mengenai blog. Saya ingin orang datang ke blog saya karena mereka memang mau mencari sesuatu yang dibutuhkan. Bukan karena tak sengaja atau karena kesasar.

Saya tak pernah berharap ada orang yang sebetulnya mau mencari informasi, misalnya, tentang desain rumah, tip merawat anthurium, memelihara kucing, atau topik lain yang tak berhubungan dengan posting saya, tapi kesasar masuk ke blog saya.

Saya berharap pengunjung yang datang hanyalah mereka yang memang hendak belajar soal blog atau tentang hubungan sosial di Internet. Saya ingin kedatangan para pengunjung yang penasaran soal tulis-menulis atau cara berkomunikasi yang mengasyikkan. Pendeknya, saya cuma menginginkan orang-orang yang memang dapat saya penuhi kebutuhannya melalui blog ini."

"Ah, sampean belagu, Mas?"

"Kok, belagu, sih? Ini soal pilihan. Saya, toh, tak bisa menyenangkan dan memenuhi kebutuhan semua orang. Kemampuan dan kompetensi saya terbatas.

Saya kasih tahu, ya, ketika sampean mulai membangun sebuah blog, sebetulnya sampean sedang membangun komunitas orang-orang yang memiliki satu keinginan dan pemikiran. Sampean memiliki apa yang mereka butuhkan dan mereka membutuhkan sesuatu yang sampean punyai. Sampean memberi, mereka menerima, dan sebaliknya. Paham?"

Teman saya menggelengkan kepala. Huh!

Diskusi tentang topik ini bisa diikuti di http://blog.tempointeraktif.com

koran

Berita lainnya

Dua Nyawa Melayang Di Jalan Tol Jakarta-Merak - 07 Ags 2008 | 21:09 WIB
Dennis tetap di McLaren - 07 Ags 2008 | 21:06 WIB
Panitia Konser Maut Dituntut 3 Tahun Penjara - 07 Ags 2008 | 21:01 WIB
Perilaku Koruptif Tidak Berubah - 07 Ags 2008 | 20:51 WIB
DPRD Banten Minta RSUD Balaraja Dioperasikan - 07 Ags 2008 | 20:46 WIB
Schuster Hormati Keputusan Ronaldo - 07 Ags 2008 | 20:41 WIB
AJI Sampaikan Solidaritas untuk Jurnalis China - 07 Ags 2008 | 20:22 WIB
Debut Indah Italia dan Brasil - 07 Ags 2008 | 20:16 WIB
Singapura Bantu Buruh Lewat Work-Fare - 07 Ags 2008 | 20:09 WIB
Industri di Malang Minta Intensif PLN - 07 Ags 2008 | 20:05 WIB
>

index berita


Google Custom Search
  @ korantempo